"JEMURAN"


Di pagi hari, di dataran tinggi ibu pertiwi. Angin berhembus lembut mengayun jemuran melambai-lambai. Mengikuti irama daun-daun pohon rindang seolah menari oleh deru air sungai di samping rumah dan kicauan burung bergegas mencari nafkah.
Menjadi agenda wajib dipagi hari, para ibu bangun mengasapi dapur menyiapkan asupan gizi terbaik untuk keluarga. Suami dan anak dibangunkan untuk menunaikan kewajiban panggilan dari Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai rasa syukur masih diberikan waktu untuk bangun pagi ini.
Fajar mulai naik menghimbau manusia untuk siap-siap memulai harinya, tak terkecuali aku. Meski rajin bermalas-malasan aku harus segera siap-siap memulai hidup hari ini. Bangun, sholat subuh, mengaji sebentar dan keluar menatap ufuk timur menunggu fajar tiba. Rasanya itu yang aku tunggu setiap pagi, melihat indahnya pagi hari semakin menambah rasa syukurku, sembari menunggu omelan ibu untuk menyiapkan makanan seperti kebanyakan ibu-ibu.
Sebenarnya aku kurang suka aktifitas itu, memasak, mencuci dan membersihkan rumah. Rutinitas yang sangat membosankan. Tak ada liburnya, kalau tak ingin cubitan ibu mendarat di pinggang. Kata orang-orang “itu demi kebaikan mu, jika kelak berumah tangga kau tau kerjaan mu”. Kenapa harus aku, kenapa harus kita perempuan ?, mereka bilang pernikahan itu kerja sama, tapi kenapa perempuan yang memasak, mencuci, membersihkan rumah dan pergi ikut suami bekerja diladang ? haramkah lelaki menginjak dapur dan memegang sapu ? entahlah, itu yang kerap membuatku termenung menyesali entah apa.
Hanya satu hal yang aku suka dari semua pekerjaan membosankan itu, aku sangat menyukai jemuran yang berjejer rapi pakaian-pakaian basah. Seolah-olah mereka tetap menari meski telah di guyur air, disikat dan di peras sedemikian kerasnya. Mereka tetap bahagia, mungkin karena mereka tahu akan bersih setelahnya walaupun akan kotor kemudian dan begitu seterusnya sampai mereka tak lagi digunakan. Tapi mereka tetap menari. Atau mereka terpaksa menari ?.
Oh kain yang bergelantungan di jemuran, sungguh elok dirimu. Rela diperlakukan bagaimanapun kau tak pernah membantah. Engkau malah melindungi kulit-kulit yang membuatmu menderita. Kenapa kau tak pernah memohon pada Tuhanmu untuk membawa angin terbang mengakhiri penderitaan itu. Andai aku boleh berandai-andai, andai aku jadi engkau aku akan lari bersama angin menikmati kebebasan meski tak tau berakhir dimana, asalkan tak jadi kain lap.
Tapi tak ada gunanya, takdir telah menentukan hidupmu, jika kau lari mungkin akan lebih buruk hidupmu. Berakhir di tengah jalan raya, terombang-ambing oleh angin kendaraan berlalu lalang dan seekor anjing mengencingimu yang menambah derita dan tak ada yang bisa kau lakukan. Bukan itu bebas yang engkau defenisikan. Bahagiamu mungkin hanya sekejap, ketika terbang bersama angin dan derita di depan mata ketika angin lebih dulu dan kau terjatuh dibelakang, tertinggal, tanpa dijemput kembali untuk terbang lebih tinggi.
Tetaplah ditali jemuran menungguku datang. Setidaknya hidupmu lebih jelas diesok hari. Biarlah derita datang sesaat dan bahagiapun sesaat. Jika kau mensyukuri hari ini, berlakon sebaimana peranmu memberikan kenyamanan bagi siapapun yang memakaimu dan kau yakin dihari kemudian, kau pun akan bahagia. Karena pasrah yang membawa derita adalah ketika kau tak berbuat apa-apa dan pasrah yang membuat bahagia adalah saat kau telah melakukan yang kau bisa dah hasilnya kau serahkan pada Yang Maha Kuasa..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Criteria handsome and dashing from various countries

Penggambaran Pelanggaran Etika Pers dalam Film “Mad City”